“Temukan bagaimana PT Prihaditama mengungkap akuifer air tawar dengan metode geolistrik resistivitas 1D yang canggih… Pelajari kedalaman, komposisi lapisan, dan solusi air berkelanjutan.”
Air adalah kehidupan—namun jutaan orang di Indonesia dan Asia Tenggara menghadapi ketidakpastian akan akses air bersih yang berkelanjutan. Saat sumber air permukaan menipis atau tercemar, jawabannya mungkin terletak hanya beberapa meter di bawah tanah: air tanah. Tapi bagaimana menemukannya tanpa pengeboran yang mahal dan merusak? Di sinilah survei geolistrik resistivitas 1D berperan—teknik geofisika presisi yang dikuasai PT Prihaditama untuk memetakan akuifer bawah permukaan secara akurat.
Metode geolistrik resistivitas mengukur seberapa mudah arus listrik mengalir melalui material bawah permukaan. Jenis batuan, porositas, dan kandungan air menciptakan “tanda tangan listrik” yang unik. Misalnya, lapisan pasir jenuh air tawar biasanya menunjukkan nilai resistivitas antara 10–100 ohm·m, sedangkan batuan kering atau padat melebihi 100 ohm·m. Air laut justru sangat konduktif, dengan resistivitas di bawah 1 ohm·m.
Di PT Prihaditama, kami menggunakan konfigurasi elektroda Schlumberger—standar emas dalam Vertical Electrical Sounding (VES) 1D. Konfigurasi ini menempatkan dua elektroda arus (AB) berjauhan, dengan dua elektroda potensial (MN) di tengah. Dengan memperlebar jarak AB secara bertahap, kami menjangkau lapisan yang lebih dalam dan membangun profil resistivitas vertikal di setiap titik survei.
Caption Gambar: Peralatan geolistrik sedang digunakan—mengukur beda potensial sambil menginjeksikan arus listrik searah ke dalam tanah.
Data lapangan tidak hanya dikumpulkan—tapi divalidasi. Setiap titik survei diukur dua kali, dengan deviasi maksimal 10%, untuk menjamin keandalan data. Tim kami mencatat:
Data mentah ini kemudian diproses menggunakan pemodelan inversi non-linear, diperkaya dengan flatness constraints untuk menghasilkan penampang 2D yang halus dan geologis. Ini bukan tebakan—ini hidrogeofisika berbasis fisika.
Berdasarkan referensi hidrogeofisika (Flacke, 1976; Palacky, 1997), kami mengklasifikasikan kondisi bawah permukaan sebagai berikut:
|
Material / Kondisi |
Rentang Resistivitas (ohm·m) |
|
Air laut |
0 – 1 |
|
Air payau |
1 – 10 |
|
Air tanah tawar |
10 – 100 |
|
Tanah kering / jenuh air rendah |
> 100 |
Dalam proyek terkini, analisis kami mengidentifikasi:
Zona ini tampak sebagai lapisan biru dalam model interpretasi kami—melambangkan lapisan pembawa air—sedangkan lapisan merah (>100 ohm·m) menunjukkan batuan keras atau kering.
Metode Vertical Electrical Sounding (VES) yang mengukur resistivitas bawah permukaan di satu titik untuk mengetahui kedalaman dan komposisi lapisan.
Ya—air tawar dalam media berpori (seperti pasir) biasanya menunjukkan 10–100 ohm·m, berbeda dari air asin atau batuan kering.
Dengan pemodelan inversi dan validasi lapangan (seperti pengukuran ganda), akurasi mencapai 85–90% untuk kedalaman dan ketebalan akuifer.
Memberikan resolusi kedalaman optimal dengan pergerakan elektroda minimal—ideal untuk profil 1D yang cepat dan hemat biaya.
Air tanah bukan sekadar sumber daya—tapi tulang punggung kehidupan bagi masyarakat, pertanian, dan industri. Dengan ancaman perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan, eksplorasi berbasis sains bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.
PT Prihaditama menggabungkan puluhan tahun keahlian ilmu kebumian dengan perangkat geofisika mutakhir untuk mengubah ketidakpastian bawah permukaan menjadi keputusan strategis. Baik Anda pengembang, pemerintah daerah, maupun LSM, kami membantu Anda mengebor lebih cerdas—bukan lebih dalam sembarangan.
Hubungi kami hari ini untuk proposal survei geolistrik yang disesuaikan—dan ubah data menjadi air yang andal.
07 November, 2025
Admin Prihaditama